Tampilkan postingan dengan label VeNal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label VeNal. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 November 2015

Fanfiction : Secret (2) ( VeNal JKT48 )

SECRET (2)

Malam yang sepi. Aku berjalan di sendirian di trotoar jalan ini. Tertunduk sambil memijit kedua alis ku. Aku tak tahan terus-terusan seperti ini. Salah ku, iya salah ku. Aku yang bodoh telah menerima perjanjian itu. Tak bisakah aku berfikir sebelum menggambil semua itu? Dimana aku saat itu? Bagaikan aku terhipnotis akan ajakan adyth yang membuat ku lupa akan segala nya.

Kaki ku terasa lelah, angin malam membuat setiap bulu kuduk ku berdiri. Dingin, aku ingin pelukan dia. Seseorang yang sangat ku sayangi. Namun apa yang kini aku lakukan telah melukai hatinya. Aku terhenti dan memilih duduk di pinggiran trotoar jalan. Tak banyak kendaraan yang lalu lalang karena kini malam semakin larut.

Aku tertunduk pilu sambil menyembunyikan wajah ku di balik ringkuan ku saat ini. Kadang aku harus menghantamkan kening ku ke lutut yang cukup keras. Aku pusing. Sungguh pusing seperti kepala ini mau pecah. Lama aku tertunduk sebuah biasan cahaya menyinari ku saat itu, seketika aku menoleh ke arah cahaya itu. Aku di terangi oleh cahaya lampu mobil yang mengarah kearah ku. Aku mematung dan heran. Ku lihat pintu mobil itu terbuka dan siapa dia? Yap! Dhike, sahabat ku semenjak SMA. Dari mana ia bisa tau aku tengah ada disini?

“dhike?”

“hai nal” sahut nya tersenyum kearah ku

“kok lo bisa tau gw ada di sini?”

“gw ngak sengaja lewat sini, eh ngelihat elo duduk di pingiran trotoar begini. Ngapain?”

“gw lagi stress key” balas ku lesu

“karena masalah itu?” tanya dhike yang juga sudah mengetahui apa yang sedang terjadi padaku

Aku hanya mengangguk atas pertanyaan dhike. Aku tak sanggup harus jawab apa. Ditanya bagaimana solusi yang bisa aku lakukan, itu pun percuma. Itu hanya bisa membuat ku mati lebih cepat. Seketika dhike menepuk pundak ku dan kemudian merangkul ku dengan penuh perhatian. Aku masih tertunduk pilu sambil menompang dagu di lutut ku.

“gw ngk nyangka kinal yang tomboy seperti ini tak bisa menyelesaikan masalah dengan mudah? Bukankah lo pernah bilang ke gw kalau lo itu jendral yang hebat? Wanita yang tanguh? Tapi dimana itu semua? Sejak kapan lo jadi lemah seperti ini?”

Aku mematung menatap dhike, mencerna setiap ucapan yang baru saja ia katakan padaku. Iya, aku pernah mengatakan hal itu. Tapi apakah aku tak boleh menjadi seterpuruk ini meski aku pernah menganggap diriku ini seseorang yang berjiwa jendral?

“jika lo mau cepat selesai, ungkap semua di hadapan ve”

“itu malah membuat ve jadi terluka key?”

“bukankah lo udah melukai nya duluan nal? Sadar lah?” bentak dhike sambil menguncang tubuh ku yang lemas ini

Semakin di sudutkan, semakin lemah dan tak berdaya diriku saat ini. Rasanya ingin mati saja, hingga tak ada lagi beban yang kurasakan. Seketika aku berdiri, memunggungi dhike yang masih mendongkak menatap ku. Ku usap kedua wajah ku dan mengeram sambil menggenggam erat rambut ku kasar.

“aaaaarghhhh!!!!” teriak ku

“iya! Gw udah melukai hati ve terlebih dahulu!” teriak ku lagi

“nal?” panggil dhike

“gw nyerah! Nyerah!!!!”

Plakkkkk!
Seketika tamparan keras melayang di pipi ku. Membuat ku tertunduk hingga menitihkan air mata. Aku pantas dapatkan ini.

“bilang sama gw jika lo tak bisa jujur dengan ve! Biar gw yang bilang pada ve tentang semuanya!”

“.......................”

“gw ngk tahan lihat lo seperti ini nal? Gw kira lo bakalan bahagia sama ve, tapi apa? Berkat ulah lo sendiri demi mempertahankan perusahaan itu, lo mau merelakan ve dengan pria brengsek itu!”

“jangan ungkit masalah itu lagi!” teriak ku sambil menunjuk kasar dhike

Amarah ku terluapkan ketika dhike mengucapkan inti dari permasalahan yang selama ini aku rasakan, aku perbuat. Tangan ku mengepal hebat, ingin menghantam siapapun yang ada di hadapan ku, meski itu adalah dhike. Rahangku mengeras, sesak. Nafas ku tak beraturan.

“lo mau pukul gw? Pukul! Lampiaskan semua yang lo rasain saat ini!”

Ku pejamkan mata, kepalan tangan ku semakin kuat. Rahang ku pun semakin mengeras. Aku tahu dia siapa, sekelebat kenangan indah pernah terjadi antara aku dan dhike. Sahabat yang selalu ada buat ku. Sahabat yang selalu memberikan motivasi terbaiknya untuk ku. Aku tak mungkin melampiaskan semua amarah ku pada dhike. Bukankah dia ingin aku tenang, kembali seperti semula. Tapi aku malah memilih ego ku yang tak beraturan ini. Seketika aku mengendus pelan dan mencoba meredakan segala emosi ku.

Tubuh ku melemas dan terduduk di aspal ini. Mematung hingga aku tak bisa lagi berfikir jernih. Seketika dhike mendekat kearah ku, menyentuh kedua lengan ku. Kemudian ia menegakkan wajah ku. Dan tak lama memelukku erat. Entah apa yang membuat hati ku luluh saat ini, air mataku jatuh tak tertahan kan. Aku menangis di pelukan dhike. Tangis terisak membuat ku bukan kinal yang dulu.
“gw ngak mau lihat lo seperti ini terus nal, gw mau lo bahagia lagi bersama ve. Pikirkan jalan terbaik untuk menyelesaikan permasalahan lo”

“otak gw udah buntu key”

“gw siap bantu lo buat selesaiin masalah ini” balas dhike melepaskan pelukan nya

Aku hanya tersenyum mendengar ucapan dhike itu, “udah jangan nangis lagi, eh ini pertama kali nya gw lihat lo nangis kejer gini” balas dhike heran

Aku tertawa kecil sambil tertunduk. Tentu aku malu karena ini yang pertama kali aku rasakan. Kemudian dia membantuku untuk segera berdiri, merapikan seluruh pakaian ku dan rambut ku yang terlihat acak-acakan.

“sudah malam nal, sebaiknya lo gw anter pulang yah” ucap dhike yang membuat ku mengangguk menyetujui ajakan nya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~\

Tak lama aku sampai di apartement. Aku pencet tombol kode apartement ku. Kemudian aku masuk, ku lihat keadaan apartement yang sudah gelap gulita. Seketika ku hidupkan lampu sebagai penerang jalan ku. Ketika aku hendak berjalan menuju kamar, ku lihat ve tengah tertidur di sofa, meringkuk kedinginan. Tanpa berfikir panjang aku dekati sosok nya yang sudah tertidur pulas itu. Ia menunggu ku sampai harus tidur di sofa seperti ini. Badan nya yang cukup ringan membuat ku harus menggendong nya menuju ranjang. Sedikit keberatan memang, tapi tak masalah bagiku demi tak membangunkan dirinya dari tidur nya yang lelap ini.

Ku selimuti seluruh tubuh nya dengan selimut. Ia mengeliat nyaman ketika aku menyelimutinya. Seketika aku tersenyum dan kemudian mengelus pipi  nya yang tembem itu. Waktu yang sudah menunjukkan pukul 02.00 wib, aku akhirnya memilih tidur. Untung saja besok weekend, jadi tak ada jadwal kantor untuk esok hari. Ku baringkan tubuhku di ranjang, tepat di sebelah ve yang sudah tertidur pulas itu. Sebelum nya ku kecup kening nya dahulu dan kemudian aku langsung tidur.

Pagi menjelang. Ku lihat biasan matahari mengenai pelupuk mataku. Seketika ku hadang dengan lengan ku saat itu juga. Mataku sayu-sayu menatap seseorang yang tengah berdiri di depan lemari pakaian.

“ve?”

“kinal? Kamu sudah bangun? Hmm rekor sekali kamu bangun jam 11 yah” balas ve sambil menatap jam dinding

Kemudian aku duduk diatas ranjang sambil mengumpulkan nyawa terlebih dahulu. Aku kucek kedua mataku untuk bisa melihat dengan jelas di sekelilingku. Terlihat seketika ve mendekati ku dan duduk di sebelah ku.

“maaf untuk tadi malam nal” ucapnya

“maaf untuk apa?”

“aku udah memaksa kamu untuk jujur, padahal sebenarnya kamu ngak nyembunyiin sesuatu dari aku kan?” balas nya sambil mengelus pipi ku

“i-i iya...” balas ku gugup

“kalau gitu kamu mandi gih, temenin aku ke mall yah”

“mau ngapain?”

“mau nyari baju nal, lagi diskon hehehe” balas nya manja sambil menidurkan kepala nya di bahu ku

Seketika aku menggendus pelan, “iya iya” balas ku kemudian turun dari ranjang dan bergegas menuju kamar mandi

#################################

Akhirnya aku dan ve sampai di mall yang tak jauh dari apartement kami. Aku dan ve berjalan menyusuri setiap toko pakaian yang ada di mall. Hal yang sedikit malas buat ku menemai ve berbelanja pakaian yang bisa di bilang sangat memakan banyak waktu. Namun mungkin saat ini lagi pengen melihat pakaian-pakaian yang mungkin bisa saja ku beli. Jarang-jarang aku bisa berbelanja seperti ini.

“ya ampun ve, rame banget ini. Pindah yuk?” ajakku tak nyaman melihat toko yang cukup padat

“iih.. nanggung nal, itu aku sudah ketemu sama barang yang mau aku cari”

Saat ini toko yang ku kunjungi dengan ve begitu padat. Tak hanya dipadati kaum wanita saja, tapi kaum pria pun ikut dalam kepadatan toko ini. Bagaimana tidak padat? Bisa di bilang hanya toko pakaian inilah yang membuka diskon besar-besaran.

Aku semakin bete berlama-lama disini. Terus menggoda ve untuk segera meninggalkan tempat ini, namun ve bersikeras untuk tetap berada di toko ini. Aku Cuma bisa pasrah, tak ingin membiarkan ve berpadat-padatan bersama wanita-wanita dan ibu-ibu penggila pakaian diskon ini. Namun tak lama seketika seseorang menepuk bahu ku dari belakang.

“mas.. mas.. permisi sebentar” ucap seorang SPG mencoba mencari celah untuk lewat

Seketika aku menoleh kearah SPG yang menepuk pundak ku itu. Aku keget ketika ia memanggil ku dengan sebutan Mas .

“maaf, saya perempuan kali mas, ngak usah di panggil begituan juga” balas ku bete

“eh perempuan toh, dari belakang seperti laki-laki mba. Lagian dandanan mba kaya laki-laki sih” balas SPG itu seketika melipir meninggalkan aku dan ve

Tanpa di sadari, sedari tadi ve hanya tertawa kecil melihat percakapan singkat ku bersama SPG kelemer-kelemer itu. Seketika aku menatap ve sakartis dan kemudian menarik nya keluar toko.

“hahahaha aku jadi geli dengar nya nal” tukas ve yang masih menahan tawanya itu

“udah lupain, anggap aja itu manusia planet mars yang panggil begitu” balas ku bete

“makanya style kamu ubah dong, jangan pake kemeja atau T-shirt dan celana jeans mulu. Kaya aku nih” sambil menunjukkan style pakaian nya yang girly itu

Aku hanya menyerngit menolak style nya itu jika terjadi pada diriku. Memilih untuk diam tak melanjutkan percakapan aneh ini. Seketika ve menganggu pandangan ku, membuat ku sedikit malu jika di lihat seperti itu. Tak lama tawa nya pecah dan kemudian merangkul ku penuh kasing sayang. Terkadang suka mengacak rambut ku dan membuat ku sedikit kesal jika rambutku di acak.

“nal, kita ke toko perlengkapan bayi dulu yah sebelum pulang”

“hah?? Ngapain? Sejak kapan kamu....?” tukas ku menyerngit kaget

“ih apaan sih?” ucap nya seketika memukul manja lengan ku

Akhirnya aku dan ve menuju ke toko perlengkapan bayi. Mataku sedikit berbinar-binar melihat bentuk lucu perlengkapan bayi ini. Aku merasa gemas melihat bentuk dan ukuran yang kecil-kecil ini.

“ini bagus ngak?”

“emang cowok bayi nya? Emang buat siapa sih?”

“iihh itu loh kinal, kakak sepupu aku baru lahiran jadi mau beliin hadiah gitu”

“ouh gitu, bilang dong dari tadi”

Aku pun berjalan meninggalkan ve sambil menyusuri setiap sudut toko ini. Mencari barang apa yang cocok untuk di berikan kepada bayi laki-laki. Dan tap! Mataku berhenti di sebuah benda yang cukup lucu dan mungkin kelihatan keren jika di pakai oleh bayi laki-laki. Aku menggambil satu dan memperlihatkan nya kepada ve.

“ve, kalau ini gimana? Ini bagus loh, jarang-jarang kali bayi pake ini”

“ini baju?”

“kain sarung!, ya baju lah ve”

“hahaha iya deh, iya nih lucu. Kamu kok pinter nyari nya?”

“kinal gitu loh” tukas ku sedikit menyombongkan diri

Hari ini cukup melelahkan. Bisa dibilang seharian aku dan ve berjalan di mall ini. Mungkin 1 lantai kami hitari selama 2 jam. Hingga akhirnya aku memilih beristirahat di sebuah resto untuk sejenak menyelaraskan energi ku dan ve setelah bercapek-capek ria menyusuri seisi mall ini.

“besok temenin aku yah ke rumah kakak sepupu ku”

“hm..” balas ku mengangguk sambil menyeruput minuman ku

Sudah 30 menit aku dan ve beristirahat sejenak di resto ini. Aku dan ve kini sibuk di balik hp masing-masing. Tak ada percakapan yang membuat kami asik untuk berlama-lama disini. Badan ku terasa pegal, seketika aku menyandar sambil menatap kasir di depan sana. Namun tiba-tiba saja masuk seseorang yang ku kenal dari pintu satu resto ini. Seketika aku kaget dan mulai gugup. Ve sedari tadi terus asik di balik hp nya itu. Dengan cepat aku genggam pergelangan tangan ve untuk bersiap membawa nya pergi dari sini.

“ve, ayo kita pulang, a-a-aku bosan disini” balas ku gugup

“nal kamu kenapa?” tanya nya heran menatap ku gugup

“ngak kenapa2 kok, yuk” ucapku sambil menarik lengan nya untuk buru-buru keluar

Aku memilih keluar dari pintu samping yang ada di resto ini, menjauhkan ve demi tak melihat si pria brengsek itu. Jalan ku cepat untuk segera menjauh dari resto ini. Tapi ve terus heran menatap ku yang tiba-tiba saja berubah menjadi aneh. Jauh dari resto itu seketika ve menghempaskan lengan nya sehingga membuat genggaman ku terlepas.

“kamu kenapa sih nal?”

“gpp”

“tapi kamu kelihatan aneh tauk!”

“ya udah sih, ayo kita pulang”

Kini hari sudah mulai senja. Jalanan jakarta yang macet membuat ku sedikit kesal. Stir mobil ini aku genggam erat, kadang sesekali aku memijit kedua alisku. Kenapa dunia ini terasa sempit? Ketika aku berjalan berdua bersama ve selalu saja pria brengsek itu muncul. Aku yang ingin menjauh dari nya tapi malah terus-terusan di pertemukan. Apa yang salah dari ku? Mungkin kah ini balasan atas semua kesalahan ku?

“nal?” panggil ve sambil menyentuh lengan ku. Seketika aku tersadar dan menoleh kearah nya

“iya”

“kamu baik-baik aja?”

“iya, aku baik-baik aja kok”

“kamu tidak menyembunyikan sesuatu dari aku kan?”

“ouh... ng-ng-ngk kok”

Pertanyaan yang selalu membuatku gugup. Kenapa harus ada pertanyaan itu? Aku ingin jangan pernah ada pertanyaan itu. Semakin membuat ku dilanda rasa takut, kesal terkadang kecewa. Iya kecewa, kecewa terhadap diriku sendiri. Seandainya perjanjian itu tak aku setujui mungkin aku jauh dari pertanyaan itu. Tuhan... tolong aku untuk menyelesaikan semua persoalan yang membuat ku menjadi rumit. Jika memang aku harus menyerah dari semua nya aku harap engkau memberikan satu hati yang terkuat untuk ve.


~Bersambung




------------------------------------------------------------


Hai^^
Haduuuh... FF ini udah lama banget yah, chapter 2 nya baru bisa di post sekarang - -“
Maaf yah menunggu lama banget, abisnya saya kehilangan ide saat itu, tapi sekarang saya mencoba untuk kembali mencari ide yang sempat hilang. Meski lanjutan nya jelek :’D
Makasih yang udah rela nungguin, yang udah baca chapter 1. Saya sempat PHP, tapi sekarang ngak. Insyaallah kalau ada waktu saya lanjutin lagi yah J
Oiya terima kasih buat yang udah ingetin soal FF ini^^


Terima kasih yang sudah membaca J

Selasa, 15 September 2015

Fanfiction : Yokaze no Shiwaza (Perbuatan Angin Malam) -Inspired by @veJKT48-

Yokaze no Shiwaza
(Perbuatan Angin Malam)


“aku pergi, jaga dirimu baik-baik”

Mengecup keningku dan kemudian membelai rambutku pelan. Meninggalkan ku dengan kesibukan nya yang sangat membuat ku sedih. Ia pergi dengan pakaian kantor nya di selimuti dengan mantel hangat nya.

Aku menatap setiap langkah kaki nya itu. Hanya terlihat punggung nya. Tegap dan tinggi besar. Sulit buat ku hanya untuk melepaskan nya bekerja seharian. Seakan ini membuat ku tak bisa hidup tanpa nya. Terhitung semenjak kami bersama tak ada waktu yang ku rasakan bisa berada di samping nya lama.

Malam menyambutku yang sendirian duduk di kursi panjang taman ini. Terlihat bulan sabit yang berwarna orange berpura-pura di pojok langit itu. Bagaikan tak ada yang menemani nya di langit hitam yang selalu datang menerpa kesendirian ku. Berharap setiap kali aku merasakan kesendirian ini ada satu suara yang mampu membuat ku menghilangkan rasa rindu ini.

“apakah telepon saja tidak bisa? Padahal aku merindukan mu dan terus menunggu kamu” tukas ku pelan sambil menatap layar hp ku

Kesibukan nya yang selalu membuat ku terus merasa sepi. Tak beda jauh dengan hari-hari sebelumnya, tentang hari ini pun ia tetap sibuk dengan pekerjaan nya. Aku tau, aku sadar dan mengerti atas semua kesibukan nya. Tapi setidaknya ia bisa mengerti perasaan ku yang kini selalu sepi. Ketika malam tiba tak ada kehangatan peluk nya yang kurasakan. Selalu di buat akan rasa kerinduan sepi melewati malam yang dingin.

Aku berjalan sendirian di jalanan aspal ini, tak ada terdengar suara apapun yang bisa membuatku sedikit berfikir tenang. Tapi sama saja, suara kaki ku pun terasa sepi seakan aku ingin menendang kaleng kosong. Memberikan satu suara, melampiaskan segala apa yang kurasakan saat ini.

Jalan ku sambil menatap bulan sabit yang masih saja diam sendirian di langit itu. Tak ada awan yang menyelimuti nya. Mungkinkah bulan ini seakan menceritakan semua yang ku rasakan saat ini. Berapa pun banyak nya bintang di langit sana tak ingin menjadi satu yang sempurna di diriku. Cukup bintang ku hanya lah dirinya, satu-satu nya penarang ku. Berkelap-kelip di dalam jiwaku hingga selalu menjadi lampu yang selalu menerangi setiap sudut hati ku yang gelap.

Aku terus berjalan hingga mendapat sebuah ayunan berwarna-warni di taman ini. Aku mendekati ayunan itu, aku duduk diatas nya. Terasa dingin sehingga membuat ku sedikit merasakan suntikan dingin yang cukup membuat ku menggigil.

Terus berkali-kali aku menatap daftar telpon yang masuk. Tak ada nama nya tertera di situ. Memainkan setiap jari jempol ku memainkan layar hp ku. Berharap ia akan menelfon ku, meninggalkan jejak bahwa ia baru saja menelfon ku. Tapi seakan semua hanya bisa ku angan kan, tak ada yang berbeda. Sama, tak ada yang berubah dari daftar telfon yang masuk ini.

Merasakan sikap nya yang dingin akhir-akhir ini. Terasa kini hanya aku yang merasakan berat cinta , hingga merasakan semua ini terasa berat sebelah, tak ada balasan suci yang kurasakan. Ia terlalu sibuk, tanpa merasakan atau menyadari aku yang kini telah menjadi miliknya. Berharap tak akan ada pesan tertingal setiap sepi mengundangku, cukup telfon dan tanya aku apa yang sedang aku rasakan sekarang.

“aku rindu~” ucapku pelan dengan suara gemetar menahan tangis

Aku ingin segera bertemu dengan nya, terus menahan tangis ku. Merasakan aku ingin terbang kelangit itu, aku ingin ditemani bulan dan bintang-bintang agar aku tak bisa merasakan kesepian seperti ini.

Berfikir entah apa yang kulakukan saat ini. Kenapa aku bisa jadi suka seperti ini, setiap malam. Setiap ia selalu meninggalkan ku. Seakan angin malam selalu membawa ku kesini, menusuk setiap pori-pori kulit ku. Dingin hingga aku merasakan kerinduan sosoknya. Ingin di peluk hangat oleh sosoknya. Seakan semua terjadi karena perbuatan angin malam.

Masih dengan keadaan ku yang terus menunggu sosok nya disini, sepi, sendirian. Tentu saja aku menunggu hingga aku terus menahan air mataku. Melampiaskan segala amarah ku yang selama ini ku pendam. Namun aku urungkan karena aku malu, tak bisakah aku menjadi bulan yang ada di langit itu? Ia yang selalu sendirian tak pernah mengeluh apalagi menangis, ia selalu sendirian. Hanya bintang-bintang itu yang selalu menemani nya.

“telfon aku, aku ingin kamu mengabari ku, ajak aku untuk bisa menemui mu disana” ucapku sendirian terus menatap layar hp ku

Tak ada jawaban atas semua ucapan ku. Ingin rasanya aku pergi kesuatu tempat. Butuh sesuatu yang bisa membuat ku tenang. Bukan kamar, tempat yang selalu sepi. Sendiri. Aku mengukuh kuat tak ingin pulang. Memilih terus sendirian sampai ia bisa datang menemui ku atau mungkin mengabari ku bahwa ia akan terus berada di samping ku.

Berlarut-larut, berlama-lama, hingga waktu tak terasa bagi ku. Malam yang semakin dingin. Kesepian semakin terasa, jalanan sepi menandakan waktu yang tak pantas lagi untuk bisa berkeliaran di malam hari.

Sampai berapa lama lagi aku harus menunggu nya, hingga aku bisa bertemu dengan nya. Apakah aku disini saja sendiri sampai pagi, menunggu dirinya. Aku terlalu serius kah? Terlalu bodoh atau berlebihan? Entah lah aku hanya ingin bertemu dirinya. Menikmati malam yang sunyi ini. Memikirkan keesokan hari yang tentu saja pasti akan bertemu dirinya, tapi aku tak ingin. Aku tak ingin pulang. Berharap ia datang menjemputku saat ini. Peluk aku.

Menatap pilu kesendirian ku, entah berapa lama aku terus menunggu nya. Percuma saja aku lakukan semua ini, ia mungkin saja tak akan mencari atau mengkhawatirkan ku. Aku mulai bosan untuk terus berada di sini. Hingga akhirnya aku memilih kembali, menegakkan tubuh ku lemas sambil menghela napas pelan.

“kamu ingin pulang?” tukas seseorang menyadarkan ku dari kepiluan hati

Seketika aku menegakkan kepala ku. Mataku ku yang sayu kini membelalak. Sosoknya yang kutunggu tepat berada di hadapan ku. Berdiri tegap, masih mengenakan baju kantor dengan di selimuti mantel hitam nya. Ia tersenyum kearah ku.

Merasa tak percaya apakah ia yang kini berada di hadapan ku. Tak tersadar air mataku jatuh hingga membasahi pipi ku. Seketika aku berlari mendekati dirinya dan ku peluk dirinya erat saat ini. Ia memelukku pun dengan erat nya. Ia terus mengecup kepala ku sesekali membelai rambut ku sambil tertawa kecil.

“kamu tau aku berada disini?” tanya ku mendongkak kearah nya

“tentu saja aku tau, detak jantung mu adalah detak jantung ku juga” balas nya tersenyum kearah ku

Aku membalas senyum nya itu. Kembali ku peluk erat tubuh nya yang hangat. Tak lama seketika ia melepaskan pelukan ini pelan. Ia menggenggam erat lengan ku dan menatap ku dalam.

“jangan diam sayang, katakan apa yang ingin kamu katakan. Jika kamu ingin terus bersama ku, katakan itu” tukas nya terus menatap ku dalam

Aku tertunduk ketika ia mengatakan hal itu. Aku tak berani menjawab pernyataan nya itu yang sebenarnya selalu menjadi permasalahan bagi ku.

“aku akan berhenti demi kamu”

“jangan!” balas ku kaget

“kenapa? Pekerjaan bukanlah hal yang utama sayang, yang penting kebahagiaan kamu dan aku” balas nya sambil menyentil manja hidung ku

“pekerjaan adalah tanggung jawab kamu sayang”

“sudah lah, semua sudah terlambat. Aku sudah mengundurkan diri” balas nya berjalan santai. Aku menatap nya heran.

“kamu mengundurkan diri? Terus bagaimana? Ini semua salah ku, tak seharus nya aku berlaku seperti ini”

“sudah lah, jangan menyalahkan diri sendiri sayang” tukas nya kembali menggenggam erat lengan ku. Aku malah menatap nya bingung.

“kita akan pergi dari sini, aku akan ajak kamu pindah dari sini. Soal kerjaan aku sudah memiliki perusahaan sendiri dan itu tak akan bisa membuat ku lebih sibuk seperti sebelumnya”

“kamu serius?”

“ya”

Sepintas ucapan yang aku anggap itu tak benar malah di lakukan nya dengan serius. Memilih mengundurkan diri dari kantor nya demi aku. Sedikit aku merasa bersalah saat ini, namun ia terus menolak permintaan maaf ku. Tak menginginkan aku menyesali semua yang telah aku lakukan.

“kita pulang, besok kita akan pergi dari sini” tukas nya kemudian merangkul ku

“hm..” balas ku mengangguk tersenyum

Hingga akhirnya tak ada lagi yang bisa ku sesali saat ini. Ketika perbuatan angin malam selalu menerpa ku. Tak akan ada lagi malam yang sunyi ku dapati, kini hangat dan penuh akan setiap desahan nafas ku. Cukup jika semua yang dulu itu terjadi sekali. Berharap kebahagian akan terus berada bersama aku dan dirinya.

Terus lah menjadi angin malam, tapi tak akan pernah ku rasakan perbuatan nya. Kini aku hangat dalam pelukan nya yang erat.


THE END

-----------------------------------------------------------

Hai.. :D
FF terbaru hehe
Cerita yang tentu saja terinspirasi dari sebuah lagu. Lagu yang cukup galau sih haha tapi cerita ini tidak saya bikin galau, karena kalau galau itu terlalu mainstream :v
Maaf jika cerita nya jelek dan membingungkan, karena saya bercerita berdsarkan apa yang sedang saya pikirkan.
Lagu yang menginspirasi cerita ini adalah sebuah lagu dari team J di setlist Theater no Megami. Yang nyanyiin oshi saya sendiri >.< Jessica Veranda ( @veJKT48 )


Ok itu saja yah. Terima kasih yang sudah membaca^^

Sabtu, 25 Juli 2015

Fanfiction : Kinjirareta Futari (Dua Orang Yang Terlarang) (VeNal JKT48)

KINJIRARETA FUTARI
(Dua Orang Yang Terlarang)

Aku yang selalu ada buat nya di saat senang maupun sedih, aku juga yang selalu menemani kemana pun ia pergi. Tapi kenapa? kenapa aku harus jatuh di salah satu jurang yang membuatku gila. Demi menyembunyikan hubungan ini aku rela sakit hati, menahan setiap goresan yang selalu saja datang menerpa ku. Aku hanya bisa diam, tersenyum di balik kesedihan ku. Aku tahu ia merasakan hal yang sama padaku. Cukup kita yang tau. Aku akan selalu mencintaimu.

“ayo dimakan nal” tawar adyth sambil melahap makanan nya

“iya” jawabku sambil melirik ke arah ve yang sedari tadi hanya menunduk penuh penyesalan

“kamu kenapa ve? kamu sakit ya?” ucap adyth sambil mengakat wajah ve dan mengelus pelan pipi nya

Seketika aku menggenggam erat pisau yang ada di tangan kiri ku, menahan kecemburuan teramat yang ku alami saat ini. aku menatap nya sedikit sinis. Ia membalas dengan wajah sendu nya. aku tahu kamu pasrah ve aku tahu. Ingin rasanya ku hempaskan tangan pria ini dan ku bilang “Ve milikku, jangan sentuh dia!” tapi apa yang bisa ku perbuat dengan hanya menyembunyikan kesedihan ini sambil membuang muka.

“mm... ma.. maaf dyth gw ke toilet dulu yah” ucapku kemudian berdiri menuju toilet

~~~~~~~~~~~~~

*suara percikan air keran*
Ku usap wajah ku dengan air ini. menatap cermin yang memantulkan sosok ku yang entah bagaimana aku bisa menjelaskan nya. aku ingin lari dari semua ini. tapi bagaimana? Aku begitu mencintai nya. sosoknya seakan tak bisa lepas dari bayang-bayangku. Aku benar-benar salah jatuh kedalam perasaan aneh ini.

“nal?”

Seketika aku mendapati sosoknya berdiri di belakang ku. Aku hanya menatapnya dari balik cermin ini. wajahnya yang sendu menahan tangis. Balas ku hanya sebatas senyum dengan kesedihan yang teramat ku rasakan.

“maafin aku nal” ucapnya sambil menitihkan air matanya

“apa yang perlu aku maaf kan ve? kamu ngak salah” ucapku sambil menghapus air matanya

“aku tau kamu sakit menahan semua ini nal”

“ve, kesakitan ini masih bisa ku tahan. Aku bukan orang lemah ve, percaya lah” sambil menggenggam erat pundak nya

“apa aku harus melepaskan adyth demi kamu nal?”

“jangan ve, jangan! Dia orang baik”
“tapi aku ngak tega lihat kamu seperti ini terus”

“kamu ngak yakin sama aku?”

Ia hanya menunduk sambil menangis tak bisa menjawab pertanyaan ku. “sudah jangan nangis lagi yah” lanjutku sambil memeluk nya erat sembari menenangkannya

“ayo kita balik, ntar adyth curiga lagi. Hapus air mata mu ve”

“iya” ucapnya sambil menghapus air matanya

Aku dan ve kembali ke meja di mana aku ve dan adyth makan bersama. tetap harus menahan setiap amarah ku saat ini. tahan nal, semua pasti akan berakhir. Kini aku hanya bersikap santai dan tak ada yang perlu dikhawatirkan.

##################################

“makasih yah makan malam nya dyth” ucapku

“ouh tak masalah kok, kapan2 kita makan malam bareng lagi”

“aku pulang yah ve” ucapku biasa aja

“iya” jawabnya menahan sedikit kesedihan

“ya udh, gw dan ve balik yah” ucap adyth

“iya, hati2 yah kalian berdua”

Melihat matanya yang begitu tak tega. Aku benar-benar harus bertahan di saat yang sesulit ini. aku terus menatap laju nya mobil yang mengantar ku tadi hingga wujud mobil itu tak tampak lagi dari kejauhan. Aku hanya menggendus pelan kemudian masuk kerumah.

“eh udah pulang nal?” sahut mama yang lagi membaca sesuatu, sepertinya itu undangan

“udah, loh itu undangan apa ma?” tanya ku

“loh kamu belum tau? Ini kan undangan pertunangan ve dangan adyth. Apa ve tidak memberitahu kamu?”

“ouh... mungkin dia lupa mah, kinal ke kamar dulu, capek mau istirahat” sambil menuju kamar

Aku hempas kan tubuhku ke ranjang yang empuk ini. seketika air mataku jatuh tanpa ku sadari. Menangis sambil tertawa yang seakan membuat diriku terlihat gila. Mendapati undangan degan nama yang tak asing bagiku. Iya, ve dan adyth. Aku tak menyangka semua akan berakhir seperti ini. jalanku yang tak lagi bisa terus bersama nya kini musnah sudah. Aku hanya bisa menangis sesak dan menatap layar hp ku. Senyum dengan tawa manisnya membuatku sakit saat ini, bukan lagi kebahagiaan. Jangan paksa aku lagi buat mempertahankan hubungan ini. jujur aku sudah tak sanggup lagi jika dia sebentar lagi akan milik orang lain.

###############################

Tibalah saat dimana hari bahagia itu terjadi. Aku mengenakan baju berwarna biru yang terlihat simple. Itu lah aku dengan sifat tomboy ku. Biru, yap warna kesukaan Ve. aku ingat sekali ia begitu menyukai warna biru. Aku selalu mengenakan t-shirt atau pun jaket berwarna biru ketika hendak hanya berdua bersama nya. kini semenjak pria itu datang mengganggu semua berubah. Tak ada lagi kebahagiaan yang terpancar di wajah gadis yang sangat ku cintai ini.

Tak lama aku sampai di rumah ve yang terlihat begitu ramai. Para tamu hadir sebagai saksi atas pertunangan ini. hanya ada keluarga dan teman-teman terdekat yang hadir. Aku begitu akrab dengan keluarga ve, begitu juga dengan keluarga ku yang juga sudah akrab dengan keluarga ve. aku masuk ke kamar ve. ku lihat sosok nya duduk di depan meja rias nya termenung. Aku tutup pintu kamar nya rapat.

“ve~” panggil ku pelan

Ia menoleh ke arah ku sambil menahan air mata nya. “kinal~”

“selamat yah” ucapku tersenyum sambil mendekati dirinya

“maaf” ucapnya kemudian tertunduk dan menangis

“maaf apa?”

“aku ngak bisa jujur soal pertunangan ini. aku takut nal, aku takut!!” *tangis nya pecah penuh sesak

“apa yang kamu takut kan ve?”

“aku takut kamu tak bisa menerima ini semua nal”

“*tersenyum* sudah lah ve, semua sudah terjadi. Sekarang ada adyth yang jagain kamu. Tugas ku sudah selesai ve”

“apa maksud kamu nal?”

“aku bukan lagi siapa-siapa kamu ve, kini kita hanya sebatas sahabat, bukan kinal dan ve yang dulu”

“ngak! Kita masih kinal ve yang dulu. Aku ngak cinta sama dia nal, semua karena paksaan orang tua”

“coba lah cintai dia ve, aku yakin kamu pasti bahagia”

“aku ngak bisa nal”

Aku hanya tersenyum sambil meyakinkan dirinya. Tak lama ku jatuhkan kecupan manis mengarah ke bibir kecilnya. Ini obat penenang mu ve, aku yang bukan lagi siapa-siapa kamu tetap akan selalu ada buat kamu sebagai sahabat. Menikmati kecupan manis ini sebelum di rebut oleh orang lain. Kemudian ku lepaskan kecupan ini dan pergi. Aku tau kamu sakit ve, tapi aku lebih sakit. semua ku tahan demi kebahagiaan mu, itu saja yang ku butuhkan saat ini.

Waktu terus bergulir, sudah seminggu aku tak bertemu ve semenjak pertunangan itu. Mungkin selama seminggu ini aku mencoba untuk berfikir dewasa, berpikir lebih matang lagi. Hingga akhirnya aku memilih jalan ku kembali. Menuntut untuk hidup seperti biasa dan menjalan kan aktifitas ku dengan normal saja. Aku memilih menghubungi ve dan bertemu dengan nya di sebuah danau yang terpencil. Danau yang bisa di bilang Cuma aku dan ve saja yang tahu. Danau yang tenang dengan perahu yang terikat erat di pinggiran danau.

“maaf menunggu lama nal” ucap nya sambil duduk disebelah ku

“tak masalah, aku juga baru tiba”

“ve~” panggil ku

“iya”

“mungkin saat ini kamu sudah bahagia ve” ucapku menoleh kearahnya tersenyum

“ngk, aku tak bahagia seperti yang kamu fikirkan”

“*mengendus pelan* aku sudah ngak tau lagi apa yang harus aku katakan padamu ve, ketika semua itu datang kesedihan yang ku rasakan semakin sakit. mungkin sakit melebihi orang yang benar-benar sedang sakit” ucapku sambil melempar kerikil ke danau yang tenang ini

“aku akan beri kenangan terakhir kita disini sebelum kamu benar-benar bahagia dengan nya ve, makanya aku ajak kamu kesini tempat yang sudah lama tak kita kunjungi” lanjutku. Ia hanya terus menatap ku tak percaya.

“aku tak mencintai dia nal, aku hanya cinta sama kamu!” ucapnya menitihkan air matanya

“sampai kapan pun aku akan tetap cinta sama kamu ve”

“kamu pun begitu nal, kembali lah bersama. kita sama2 saling mempercayai keabadian”

“sulit ve”

“kenapa sulit nal? Seberdosa kah pertemuan kita selama ini?” ucapnya dengan amarah bercampur air mata

Aku hanya bisa menahan sakit. kata-kata ku saat ini terlontar santai tapi sebenarnya sakit. aku tak bisa menahan semua ini berlarut-larut. Aku ingin hidup normal tanpa batu yang seakan menutupi segala kehidupan ku. Hingga akhirnya amarah ku yang seakan tertahan kini lenyap di gulung kesedihan yang kutahan lama ini.

“maaf ve, cinta kita bukan seperti orang banyak. Cukup sembunyikan perasaan ini dalam hati kita masing-masing” ucapku dengan mata yang sudah berkaca-kaca

“nal~”

“kita hanya berserah kepada takdir ve, ia yang mempertemukan kita ia juga yang mengakhiri kita”

“kita berdua yang terlarang ve” ucapku yang seakan tak sadar air mata ku telah membasahi setiap pipi ku.

“aku tak bisa dengan orang orang lain nal. Aku cinta kamu. Apa itu tak boleh?”

Aku hanya tertawa kecil dengan berlinangan air mata. Kamu yang bersikeras ingin kembali ve. tapi maaf aku yang sudah bulat dengan segala keputusanku.

“maaf atas semua kesalahan ku ve, aku yang sudah membuat semua ini terjadi”

“kamu ngak salah nal, kamu bilang takdir  yang telah membawa kita kesini” kemudian memelukku erat

Aku yang sedari tadi hanya bisa menahan tangis kini pecah begitu saja di pelukan ve. aku yang sudah tak kuat lagi menahan segala penderitaan ini. seketika ia mengecup bibir ku dengan bibir manis nya. itu seakan membuatku tenang. Aku tahu ini balasan mu ve.

“seandainya dahulu aku tidak terlahir seperti ini, mungkin kita tidak akan pernah berpisah. Aku akan mengikat mu sebagai tanda hanya aku yang memiliki mu” ucapku dengan tangis yang sesak

“sudah lah nal, tak perlu menyalahkan takdir. Kini aku mengerti maksud mu nal, jika memang kita harus berpisah aku siap, meski sebenarnya hati ini berat”

“benar ve?”

“iya nal”

“aku harap ini bukanlah akhir dari segala nya ve, cukup perasaan ini kita sembunyikan dalam hati saja”

“kamu akan selalu aku cintai nal”

“aku lebih akan selalu mencintaimu ve”

Ketenangan batin kini ku dapati saat ini. air mataku kini hilang dengan ketenangan yang telah engkau berikan ve. sesakit apa perasaan ku saat ini aku hanya ingin membuat mu bahagia.

“ve, ayo kita naik perahu itu ke danau?” ajakku

“ngak ah, aku takut”

“ngak bakalan jatoh ve, tenang aja” ucapku sambil menarik lengan nya

“kinaalll....”

“ayo naik” ajakku. Ia terus menolak dengan wajah lucu nya. “ayolah ve, sekali ini saja. Please!!” pinta ku merenggek. Namun berkat pinta itu akhirnya ve mau naik ke atas perahu itu. Aku dan ve mendayung perahu itu bersamaan.

“nal?”

“iya”

“kenapa kamu memilih mengakhiri hubungan ini?”

“kenapa kamu bahas itu lagi?”

“aku Cuma nanya aja sih, atau kamu udah punya yang baru?”

“ngak”

“terus??”

“*mengendus pelan* aku hanya ingin melihat mu bahagia ve, hanya itu yang ku inginkan. Kamu dengan kebahagiaan mu, aku dengan kebahagiaan ku” ucapku sambul tersenyum

Ia hanya membalas ucapanku dengan senyum manis nya yang indah. Aku hanya menatap nya dalam dengan senyum lebar. Kebahagiaan mu tetap jadi rasa cinta mu terhadap ku ve. bahagia lah, aku akan mencari kebahagiaan ku sendiri. Jika sampai waktunya kita pasti bisa kembali bersama.

Ku lihat ve yang sudah kelelahan mendayung parahu ini hingga berakhir di tengah danau yang begitu tenang ini. tanpa tersadar ku dapati tangan nya dan ku tatap matanya dalam.

“ve~ kalau kau lelah mendayung tidur lah dalam dekapan ku, karena di dalam mimpi kita akan terus saling mencinta J

Tanpa tersadar bibir ku dan bibir nya dekat tanpa ada jarak sedikit pun. Ciuman sebagai pertanda kebahagiaan akan selalu ada buat kita ve. aku tak bisa mengikat mu dengan cincin tadi aku hanya bisa mengikat mu dengan ciuman. Melebihi erat nya cincin yang kini tengah melingkar di jari manis mu.


THE END


-------------------------------------------------

Holla... :D
Saya kembali lagi dengan cerita baru. FF yang masih berhubungan dengan VeNal. Saya tak bisa lepas dari sosok sahabat yang menginspirasi ini. dan maksud saya membuat FF ini sebagai akhir sebelum VeNal berakhir di tanggal 1 agustus 2015 nanti, yah hanya saja sebagai kenang2an :’v.
Judul ini yah karena bisa di bilang kemungkinan ngak bisa lihat Ve dan Kinal bisa berkesempatan membawa US ini, tapi waktu tak bisa di pastikan. Jika memang takdir berkata mereka kembali yah pasti kembali.
Hehe Terima Kasih yang sudah baca^^


*note : cerita ini hanya berdasarkan imajinasi yah atau bisa di bilang fiktif.  Jadi jangan beranggapan situasi seperti itu benar dalam fakta kehidupan member. Hanya sekedar hiburan santai. 
luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com