Tampilkan postingan dengan label GreMids. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label GreMids. Tampilkan semua postingan

Selasa, 04 Agustus 2015

Fanfiction : Kotak Musik Gre (10) ( #GreMids JKT48 ) [Final]

Kotak Musik Gre (10)

Kecepatan lari ku kini berkurang. Semakin lama semakin pelan. Begitu sesak kurasakan, kini sesak bercampur kesakitan. Aku duduk di halte sembari menyelaraskan nafas ku yang terengah-engah. Aku duduk sambil tertunduk. Sendirian. Di tempat ini. tak ada hujan atau pun gerimis yang membuat ku terhenti di halte ini. tempat yang tak akan pernah ku lupakan. Tepat di sebelah ku ia berdiri memeluk bungkusan sambil menunggu hujan reda. Namun kini seakan tak bisa ku rasakan lagi, aku hanya sendiri menatap bayangan aku dan dia yang dulu hanya orang biasa yang menunggu hujan reda. Awal di mulai perkenalan ku dengan nya akibat bersin itu “haha” seketika tertawa sendiri mengingat kejadian lama itu. namun entah kenapa aku malah menyembunyikan suara tawa itu menjadi kemurungan. Aku mengendus pelan kemudian berdiri. Aku berjalan hingga keluar dari area halte ini.

“kenangan awal tak akan pernah ku lupakan gre” ucapku sambil menatap pilu halte ini. aku pun kemudian berjalan pelan untuk segera pulang. Tak banyak waktu ku untuk berlama-lama disini.

~~~~~~~~~~~~~~~~~

“aku pulang” sahut ku sampai di depan pintu rumah

“hamids”

“kak kinal? Kok bisa ada disini?” tanya ku yang heran melihat kak kinal tiba-tiba saja ada di dalam rumah ku

“eh kamu sudah pulang sayang, ini ada tamu buat kamu” ucap mama yang datang sambil membawa secangkir teh

“di minum dulu yah. Tante ke dapur dulu” lanjut mama

“iya, makasih tante” jawab kak kinal tersenyum

Aku duduk menyerong ke arah kak kinal. Menunduk bercampur sedikit heran. Kenapa kak kinal ke rumah ku dan tanpa sepengetahuan ku dahulu. Tak ada satu kata pun yang terlontar dari mulutku. Kak kinal hanya terus menatap ku tak biasa.

*mengendus pelan* “sudah bicara pada gre?” tanya kak kinal seakan membuatku menegakkan wajah ku

“belum”

“kamu mau dia sedih berlarut-larut?”

“aku ngak mau kak” jawab ku pelan

“terus kenapa harus menahan semua itu sampai sejauh ini?”

“a-a-a aku.....”

“mids, gre itu beda dari cewek lain. Dia ngak mudah terus menerima. Kamu perlu beri waktu dia untuk berfikir mids. Tapi semua sudah terlambat. Kamu sudah menghancurkan semua nya” ucap kak kinal tegas

Ketegasan nya seakan membuat ku takut. Iya aku yang salah, aku yang bodoh. Tapi bagaimana? Semua sudah terjadi.

“jam berapa kamu berangkat?”

“malam kak, sekitar pukul 11 malam”

“kakak harap kamu bisa mengatakan nya mids” ucap kak kinal sambil menepuk pundakku

Aku yang tak tahu lagi ingin berkata apa hanya bisa menyerah. Aku memilih apa yang sudah ku tentukan. Biarkan aku dengan kebahagiaan ku.

Seketika aku berdiri mengkepal kedua tangan ku sambil memejamkan mata “maaf, aku ngak bisa” ucapku

Aku pun kemudian pergi meninggalkan kak kinal sendirian di ruang tamu. Aku tahu pasti ia menatap ku kecewa. Yap aku hanya bisa mengatakan hal itu, cukup jika memang gre tak bisa menerima semuanya. Aku ikhlas jika gre akan membenci ku nantinya. Aku harap ini bukan hal yang buruk buatku nantinya.

######################################

aku termenung di kursi meja makan ini sambil memainkan sendok ku di sepiring nasi yang sama sekali belum ku makan sedikit pun. Menompang dagu menatap kosong semangkuk sup buatan mama ini.

“nin... sayang??” panggil mama seakan mengagetkanku

“iya mah”

“kamu kok belum makan? Ngk suka yah?”

“ngk kok mah, nina lagi ngak nafsu makan aja”

“kamu harus makan nin, nanti malam kamu kan harus berangkat”

“ma, jujur sama nina. Mama yakin nina tinggal sendirian di sini?”

“apa maksud kamu?”

“ma, sejak papa udah ngak ada lagi di rumah ini Cuma ada mama dan nina. Kakak juga jarang kesini semenjak sibuk di surabaya. Truss sekarang nina akan ninggalin mama di saat situasi seperti ini. apa mama yakin dengan keputusan mama? Kalau tidak nina bisa batalkan keberangkatan ini”

“jangan sayang”

“nina tau apa yang mama rasakan saat ini, tolong jujur mah” ucapku memaksa

Seketika mama berhenti mengunyah makanan nya, menaruh pelan sendok dan garpu pelan.
“mama mau ke kamar dulu” ucap mama kemudian pergi meninggalkan ku sendirian

Aku hanya menatap mama berjalan menuju kamarnya. Kini apa yang bisa ku perbuat. Seseorang yang sudah tau aku akan pergi malah sebenarnya berat buat melepasku. Apalagi gre, dia yang sama sekali belum sempat ku beritahu.

Aku mengusap wajah ku tak bisa menjelaskan lagi apa yang bisa ku jelaskan. Makan siang terakhir ini seakan ternodai akibat omongan ku yang seakan membuat mama sedih. Maaf mah, nina hanya ingin kejujuran mah. Nina yang sayang sama mama sebenarnya berat buat ninggalin mama jauh. Tapi mama memaksa untuk tetap maju dalam beasiswa ini.

~~~~~~~~~~~~~~~~~

Aku duduk di balkon kamar ku menatap langit yang kian senja ini. aku memeluk sebuah kotak berwarna ungu. Ku buka kotak itu. Aku ambil semua kota kecil berbentuk persegi berwarna pink ini. ku buka kotak itu dan terdengar suara merdu dengan boneka kecil sedang menari di atasnya. Aku menatap kotak itu tersenyum. Tak sadar air mataku jatuh tak tertahankan lagi.

Kota musik yang tak jauh beda dari milikmu gre, aku juga memilikinya. Kotak musik dari sahabat ku yang kini juga sudah jauh dari dunia ini. setiap malam aku selalu menatap kotak ini sebagai penghilang rasa rinduku padamu gre. Dan untuk kedepan nya kotak ini akan terus ku pegang sebagai penghilang rasa rinduku padamu gre.

Kini malam menjelang. Aku segera bersiap-siap untuk segera berangkat menuju bandara. Semua koper sudah di masukkan kedalam mobil dan siap menuju bandara. Aku diantar mama. Aku duduk di sebelah mama yang terus menatap jalan lurus kedepan. Mama sama sekali tak mengeluarkan sedikitpun ucapan nya buatku. Aku yang tak berani lagi berkata hanya bisa diam takut jika aku akan membuat hati mama sedih.

“mama mau nungguin nina sampai penerbangan dimulai?” tanya ku

“ngak, mama hanya mengantar mu sampai disini saja. Kamu juga harus bergabung dengan rombongan kamu kan. Mama pulang dulu yah, kamu hati2 di sana. Kabari mama kalau sudah sampai” sambil tersenyum kearah ku

“ma?”

“iya”

“maaf” ucapku sambil memeluk mama erat

“sudah~ tidak masalah, mama ngerti kok” ucap mama sambil melepas pelukan nya dan menatap wajah ku tersenyum

“sekarang kamu masuk gih, yang lain sudah nungguin. Selamat jalan sayang” sambil mengecup kening ku

“iya, nina masuk dulu” ucapku sambil melambaikan tangan ku ke arah mama.

Perasaan berat harus pergi jauh dari mama kini melandaku. Aku jalan masuk menuju bandara seakan tak ingin meninggalkan mama sendirian. Tapi apa daya ku yang tak mungkin lagi kembali. Nina akan segera kembali buat mama.

Aku duduk di kursi tunggu hingga penerbangan tiba. Termenung pilu menatap kosong lurus. Teman-teman yang serombongan dengan ku terlihat bahagia. Tapi aku? Aku malah terduduk pilu di kursi tunggu bandara ini. sekian lama menunggu ternyata penerbangan delay, sehingga membuat ku dan yang lain menunggu lagi untuk beberapa menit.

“pak, saya beli minuman di sana dulu yah” ucapku pada guru pembimbing ku

“iya, pergi lah”

Aku pun pergi menuju kantin bandara untuk membeli sebotol minuman. Tak lama akhirnya aku mendapatkan minuman itu dan segera kembali ke rombongan. Jalan ku tak fokus hanya sibuk membuka tutup botol minuman ini.

“hamids!” teriak seseorang menghentikan langkah ku. Seketika aku menoleh ke belakang tepat persis suara itu ku dengar. Seketika aku kaget melihat gre menatap ku sambil menitihkan air mata nya. aku mematung melihat sosok nya tepat di hadapanku. Ia mendekatiku dengan pipi nya basah bekas air mata. Apa? Inilah yang kamu dapatkan mids? Inilah hasil nya, rasakan. anggap semua ini tamparan keras dari amarah nya bercampur air matanya.

“ge-ge-gree??” panggil ku gugup

“kenapa? kamu kaget?” ucapnya. Aku malah gugup ngak karuan.

“kenapa kamu ngak bilang semua dari awal mids? Kenapa? ini seakan membuatku sakit mids, kamu begitu tega sama aku” ucapnya dengan derasnya air mata nya

“maaf gre” ucapku tertunduk

“ka-ka-kamu boleh benci dan marah sama aku gre. Aku terima. Sudah sepantasnya aku depaetin itu” ucapku lagi sambil menyentuh kedua pundaknya

Ia hanya tertunduk sambil menangis. Aku yang tak kuat lagi dengan ini hanya bisa pasrah dan menahan kesakitan akibat perbuatan ku sendiri. Aku tahu betapa perih nya hati mu saat ini gre. Tak lama kak kinal dan kak ve tiba2 saja muncul ke hadapan ku. Mereka berdua tersenyum kearah ku.

“maaf, kakak yang bilang semua nya pada gre” ucap kak kinal

“dan surat ini. kakak temukan di cafe, sengaja tak mengembalikan nya ke kamu. Kakak hanya ingin kamu bisa jujur pada gre. Tapi kamu benar-benar tetap dengan pendirian mu untuk tidak mengatakan nya pada gre” lanjut kak kinal

“ja-ja-jadi....” ucapku kaget

“iyah”

“ya sudah lah kak, semua sudah terjadi”

“semoga kamu sukses di sana yah, gre akan selalu tungguin kamu” ucap kak kinal sambil menoleh kearah gre yang di peluk oleh kak ve

Seketika aku menatap gre pilu. Aku dekati sosoknya yang menangis dalam pelukan kak ve. aku panggil nama nya hingga ia menoleh kearah ku.

“hak kamu lagi gre, kamu mau menunggu aku atau tidak” ucapku tersenyum kearah nya. ia masih menatapku dengan sesak tangisnya.

Kemudian aku menggambil sesuatu dari dalam tas ku.
“ini gre, kotak ini akan selalu menjadi penyemangat ku dan menjadi penghilang rasa rinduku ke kamu”

Seketika gre kaget melihat kotak musik itu yang begitu persis dengan miliknya.
“kotak musik ini?” ucapnya menatap heran kearah ku

“ya, begitu serupa dengan milikmu kan? Kotak musik ini juga pemberian dari sahabat ku yang juga sudah jauh dari dunia ini. aku tak pernah cerita ke kamu masalah ini, karena cukup hanya aku yang tau, namun keadaan membawa ku berani memperlihatkan kotak musik ini kepadamu”

Seketika gre membuka tas nya dan mengeluarkan kotak musik yang sama. Aku tak menyangka ia membawa kota musik itu. “kamu membawa nya juga gre?” ucapku semeringah

“iya”

“baiklah, jika kita saling merindu putar kotak musik ini sebagai pembayar nya yah?” ucapku

“iya” ucapnya tersenyum kearah ku

“hamids!! Ayo kembali, kita akan segera berangkat” teriak guru pembimbingku

“gre, aku harus pergi. Maaf atas semua yang pernah ku perbuat sehingga membuatmu kecewa” ucapku sambil menggenggam kedua tangan nya

“aku pergi gre, kak kinal, kak ve” sambil tersenyum. Jalan ku terus mundur. Namun kedua tangan ku masih di genggam erat oleh kedua tangan gre. Aku memberi senyuman pengertian kepada dirinya sehingga ia rela melepaskan tanganku dan kemudian merelakan ku untuk pergi.

Hingga akhirnya aku jauh dari hadapan nya. tak sadar air mataku jatuh. Ketika berada di hadapanya aku sudah merasa air mata ini akan segera jatuh. Namun semua ku tahan demi gre. Aku benar-benar tak tega meninggalkan sosoknya. Aku ingin kembali kepelukannya.

Hingga akhirnya aku sudah duduk di dalam pesawat. Sambil menunggu pesawat ini akan segera mengudara.

Gre POV

“aku akan selalu nungguin kamu mids, kamu jangan nakal disana” batin ku menatap lapangan terbang ini dari balik kaca yang besar di temani dua kakak yang sangat ku sayangi ini

“hamids pasti kembali buat kamu gre” ucap kak kinal sambil merangkul ku
Tak lama dari balik kaca yang besar ini. pesawat akan segera lepas landas. Aku hanya bisa menatap pesawat itu dengan air mata. Aku tak bisa menahan air mata ini. meski aku sudah melihat nya untuk terakhir kalinya. Menunggu kamu itu sesuatu yang sulit buat ku mids, tapi aku mencoba demi kamu.

Hingga akhirnya pesawat lepas landas dan mengudara di langit. Aku mengendus pelan sambil melambaikan tangan ke pesawat itu.

“hamids sudah pergi, ayo sekarang kita pulang” ajak kak kinal

“iya” ucapku sambil menghapus air mataku. Namun  ketika hendak menatap kedepan jalan seketika aku terkaget merasa tak percaya.

“gre?” panggil nya tersenyum kearah ku dan mengepakkan kedua tangannya untuk memberikan tubuhnya buat ku peluk erat

“hamids?!!” teriak ku kaget . seketika aku berlari mendekati dirinya dan kemudian memeluk nya erat. Air mataku pecah di pelukannya saat ini. aku tak percaya kini ia kembali ada di hadapan ku.

“aku kembali buat kamu gre” ucapnya

“ba-ba-bagaimana kamu bisa tidak jadi berangkat mids?” tanya kak kinal kaget ngak karuan

“semua berkat kotak musik ini, entah kenapa aku merasa aneh jika harus meninggalkan gre dan mama. Dua orang yang begitu aku sayangi dan juga masih banyak yang harus ku selesaikan disini” ucapnya sambil memainkan hidung ku

“ya ampun, kamu benar-benar berani mids” ucap kak ve kaget

“kalau ngak berani bukan hamids nama nya kak haha” ucapnya menyombongkan diri

“aku sedih ketika melihat pesawat yang kamu tumpangi terbang jauh mids”

“sekarang kamu udah ngak sedih lagi kan? Sekarang aku udah di hadapan kamu”

“iya” ucapku tersenyum kearah nya dan kemudian memeluknya erat kembali.

Hamids POV

Huft.. setidaknya keputusan yang kuambil ini sudah bulat. Jika memang beasiswa itu rezeki ku pasti semua akan kembali kepadaku, jadi intinya aku hanya ingin menghabiskan waktu ku bersama orang-orang yang kusayangi. Untuk masa depan nanti aku ingin berusaha lebih giat lagi untuk mencapai apa yang aku inginkan. Terima kasih buat semuanya yang sudah mendukung ku hingga akhirnya keputusan ku bukan harapan yang kalian harapkan.


THE END


---------------------------------------------------

Holla^^
The last chapter sudah terbit yah hehe
Maaf kalau ending nya jelek, masalah nya saya tidak begitu jago dalam mengakhiri sebuah cerita :’D
Makasih yang udah baca dan nungguin hingga FF ini berakhir. Maaf kalau selama ini cerita nya agak aneh atau membingungkan, karena saya masih newbie jadi di maklumi saja haha xD
Thank you so much... much... much hehe :D


Sampai ketemu di FF lainnya yah^^

Rabu, 08 Juli 2015

Fanfiction : Kotak Musik Gre (9) ( #GreMids JKT48 )

Kotak Musik Gre (9)

Tak banyak waktu ku saat ini sebelum tiba hari itu. Hanya menghitung hari dengan jari saja, atau sekali mata berkedip waktu itu akan segera tiba. Aku duduk di bawah pohon samping sekolah. pohon yang selalu melindungi ku dari terik nya sinar matahari dan memberikan kesejukan di saat hati ku sedang tak begitu baik. Aku terbaring dan memangku kepala ku dengan kedua tangan ku, menikmati sejuknya di bawah pohon ini. ku pejam kan mataku sembari menenangkan sejenak pikiran ku yang tengah kalut ini.

“mids~”

Seseorang memanggilku dan refleks mata ku terbuka begitu saja. Ku lihat wajah cantik dan manis tersenyum ke arah ku. Ku balas senyuman itu dan kemudian bangun.

“tumben kamu kesini?”

“ngak sih pengen jemput kamu aja, jarang-jarang kan aku jemput kamu kesini” ucapnya

“haha iya sih, tapi kok kamu bisa tau aku ada di sini?”

“hmm aku nanya sama siswa lain, kebetulan kenal kamu dan tau dimana tempat kamu santai sehabis pulang sekolah”

Ia duduk di sampingku. Sama-sama menatap lurus ke arah yang sebenarnya tak menarik untuk di lihat. Tapi perasaan ku nyaman jika terus berada di samping nya. angin ini seakan mengerti perasaan ku, sengajakah dia memainkan rambut panjang gre yang lembut dan panjang ini menampar lembut wajah ku.

“kamu belum keramas gre? :o” ucapku bercanda

“ih apaan sih? Keramas tauk”

“tapi kok bau nya aneh yah :p”

Seketika ia memukul ku manja dan memasang wajah bete. “bercanda sih gre, ngak usah bete gitu” ucapku menoleh ke depan wajahnya

Tak lama wajah nya memerah. Akh~ dia malu. Haha. Lucu deh xD aku tersenyum melihat wajah nya yang begitu manis ini. namun aku takut, wajah yang nantinya tak bisa ku lihat lagi ini apakah akan rela melepaskan ku begitu saja? Jujur pilihan ku seakan membuat ku ingin lari dari segala kerumitan yang ku hadapi saat ini. wajah ku mulai murung.

“mids, nih buku kamu, makasih yah J” ucapnya sembari memberikan buku

“iya sama2” jawab ku

“kamu kenapa mids? Kok murung?” tanya nya

“ng.. ng... ngk papa kok” ucapku gugup

“kamu yakin?”

“iya” ucapku. “eh kita balik yuk, aku udah bosen disini” lanjutku kemudian menarik tangannya.

Aku mengajak nya ketempat biasa. Yah tentu nya ke lapangan basket yang tak jauh dari sekolah. aku mengajak nya duduk di kursi penonton yang teduh. Ingin sesuatu hal ku katakan padanya. Aku harap ia bisa mengerti.

“hmm gre?” panggil ku

“iya” ucapnya menoleh kearah ku

Aku gugup. Mulut ku  begitu susah untuk di gerakkan. Hey! Apa ini? aku merasakan ada yang aneh pada diriku. Aku bukanlah seseorang yang mudah gugup bukan? bermain basket saja aku bisa santai. Tapi kali ini aku begitu gugup, di samping nya. sosok yang begitu aku sayangi. Haruskah aku berterus terang atas semuanya? Sampai saat ini aku masih merahasiakan semuanya nya pada gre.

“mids?” panggil nya menyentuh pundakku dan membuat ku tersadar dari lamunan

“eh iya gre”

“kamu kenapa sih? Kok melamun terus. Ntar kesambet loh”

“hmm gini gre, aku mau nanya sesuatu sama kamu”

“iya, mau nanya apa?”

“ketika kamu membuka buku catatan ku apa ada terselip amplop?”

“amplop?” tanya nya heran

“hmm aku tidak menemukan nya mids. Ada apa?” lanjut nya

“ouh ng.. ng.. gpp kok” jawab ku gugup

“apa itu surat penting?” tanya nya mendekat kewajah ku

“ng... ngk kok, udah lupain aja”

Gre hanya menatap ku heran. Aku hanya membuang muka menutupi setiap kegugupan ku. Kalau seandainya surat itu tak selip di buku catatan ku terus surat itu kemana? Ngk mungkin dong tercecer di jalan. Di sekolah apa lagi. Seketika aku teringat sesuatu. Terakhir kali nya aku mengeluarkan buku itu pas di cafe kemarin sore. Apa jangan-jangan surat itu tercecer di sana? Oh mungkin saja. Tapi aku tak yakin. Mungkin kah surat itu sudah terbuang?

“gre, bisa hari ini kita ke cafe tante kamu?” tanya ku dengan sigap berdiri

“loh emang ada apa?”
“ee..ee.. aku pengen kesana lagi, tempat nya nyaman. Aku bosen di sini” ucapku

“ya baik lah” ucapnya sedikit heran melihat tingkah ku saat ini

Akhirnya aku sampai di cafe. Aku dan gre duduk di tempat lain. Namun aku ingat betul tempat dimana waktu itu aku dan gre duduk berdua. aku melihat lihat seisi cafe ini. aku tak memperdulikan tatapan gre yang aneh.

“gre, aku ke toilet dulu yah”

“iya” ucapnya tak menoleh ke arah ku dan ia hanya melihat-lihat menu makanan

Aku jalan melewati meja yang kemarin ku duduki. Melihat apakah surat itu masih ada. Hey mids? Apa kamu bodoh? Saat ini tak ada benda apapun di meja itu. Semua bersih, cafe inikan setiap malam sebelum tutup selalu di bersihkan. Hingga akhirnya aku menanyakan kepada salah satu pelayan.

“mba mau nanya, kemarin sore apa ada yang melihat amplop berwarna putih di dekat meja itu?” tanya ku sambil menunjuk kearah meja yang di maksud

“hmm saya tak melihat nya mba, mungkin bisa di tanya ke bagian clining service” ucap pelayan itu

“ouh iya, makasih mba” ucapku. Aku sangat butuh surat itu, hey ayolah. Aku harap surat itu segera di temukan. Aku tak ingin ada yang tau  isi surat itu. Sekalipun itu bukan orang terdekat gre.

Aku pun pergi menuju tempat clining service cafe ini “hmm mba, permisi. Mau nya. apa mba kemarin sore melihat amplop berwarna putih di dekat meja sebelah jendela?” tanya ku

“jendela dekat mana yah?” tanya nya

“itu mba dekat spot menghadap danau, persis bgt” ucapku

“hmm saya tak melihat amplop tercecer di situ mba” jawab nya

“mba yakin?”

“iya, saya yakin. Tak ada satu pun sampah kertas saya temukan di cafe saat itu” jelas clining service ini begitu meyakinkan

“kalau gitu makasih yah mba” ucapku kemudian pergi. Ya ampun, aku benar-benar bingung dan tak tahu lagi harus cari kemana surat itu. Aku butuh surat itu, sangat-sangat butuh. Aku sudah tak sanggup lagi. Lebih baik aku lapor saja ke kepala sekolah yang sebenarnya. Ya baik lah, sebelum hari itu benar-benar terjadi. Aku kembali ke gre dengan jalan lemas dan tertunduk.

“kamu kenapa mids?” ucapnya dengan nada khawatir

“gpp kok gre” ucapku kemudian menidurkan kepala ku ke meja
“kalau kamu sakit kita bisa pulang aja mids”

“gk kok gre, aku ngk sakit. nih coba aja cek suhu badan ku” ucapku sambil menyodorkan jidat ku ke tangan gre

############################

Waktu terus bergulir. Tak terasa H-2 sebelum hari itu terjadi. Semua akan terasa sulit jika aku harus benar-benar memikirkan hal yang seakan membuat ku tak ingin merasakannya nanti. Aku ingin tak ada kesedihan yang teramat terjadi di hari itu, aku hanya butuh semangat, kebesaran hati untuk bisa merelakan ku pergi.

“kamu kok murung terus mids, ada apa?” tanya nya

“ngk gre, ngk papa kok” ucapku

“kamu menyembunyikan sesuatu kan mids dari aku?”

Seketika aku menoleh kearah nya memasang wajah tak percaya “maksud kamu?” tanya ku

“kamu ngak perlu bohong mids, jujur sama aku. Aku ngak mau kamu bohong!”

“gree... (?)”

“sejak kapan kamu pinter bohong mids?” ucapnya menahan air mata

Aku hanya tertunduk tak tahu lagi harus berbuat apa. Aku pasrah dan hanya bisa merasakan kesakitan atas perbuatan ku sendiri. Mungkin dia sudah tahu apa yang tengah ku sembunyikan saat ini.

“aku benci kamu mids, kamu ngak bisa jujur sama aku T_T” seketika ia pergi begitu saja meninggalkan ku sendirian disini.

###############################

“mids... hamids....” panggil seseorang menyadarkan ku

“kamu ngantuk yah?” ucapnya tersenyum kearah ku

“gre??” ucapku kaget

“kamu kok kaget gitu lihatin aku?” tanya nya heran

“ki... ki..kita.. dari tadi di sini yah?” tanya ku

“iya, kan kamu yang ngajak. Tapi sampai sini kamu malah baring terus tertidur. Aku jadi ngak jelas disini -,-“ jelas nya

“hehe maaf deh maaf yah” ucap ku

Seketika aku tertegun menatap lurus kedepan. Ah ternyata tadi itu hanya mimpi. Bukan kenyataan, syukurlah. Aku harap kejadian itu tak akan pernah terjadi.

“mids, tumben hari ini ngak main basket? Kan hari minggu” tanya nya

“aku lagi males main basket gre” jawab ku

“tumben sekali, biasanya semangat banget kalau mau main basket nya”

“hmm gre?” panggil ku

“iya”

“yang mana lebih penting? Masa depan atau kebahagian?” tanya ku

“dua-duanya saling berhubungan mids, jika di bedakan mana yang lebih penting itu sedikit agak sulit untuk memilih”

“emang kenapa?” lanjutnya

“ngak sih, Cuma nanya aja” jawab ku

“yuk kita pulang” lanjutku kemudian berdiri. Ia hanya menatap ku heran.

“cepet banget?” tanya nya mendongkak ke arah ku

“aku mau packing”

“packing?? Kamu mau kemana?” tanya nya heran

Seketika aku tersadar akan ucapan ku tadi “eh ngak, maksud nya mau bantuin kakak ku packing, dia besok mau ke surabaya” ucapku gugup

“ouh gitu, ya udah deh”

#########################################

Setiap dimana aku termenung selalu teringat wajah nya. senyum manis nya, gingsul kecil yang membuat ku gemes seakan menyulitkan ku untuk benar-benar meninggalkan sosoknya. Aku packing semua pakaian ku yang ada di kamar. Ku berdiri mendekati meja dimana foto-foto ku dan gre terpajang.

“maafkan aku gre :’)” ucapku menatap foto nya

“kamu boleh benci sama aku, karena aku pantes dapetin itu”

“nina?” panggil mama yang tiba-tiba datang menemui ku

“iya ma”

“kamu udah siap buat besok?”

“udah ma” jawab ku tertunduk

“kamu yakin? Kamu udah bilang sama gre?”

“belum mah”

“kenapa?”

“nina ngak mau gre sedih, gre itu sahabat gre yang paling baik mah. Sebenarnya berat ninggalin dia, tapi mau gimana lagi L”

“sahabat itu akan selamanya nin, mama yakin gre tetap jadi sahabat kamu meski kamu jauh J”

Mama ngak tau apa yang aku rasain saat ini. bukan sahabat ma, bukan! dia orang yang benar-benar aku sayangi ma. Batinku. “ya udah kamu istirahat. Besok malam kamu berangkat” ucap mama

“ma...” panggil ku

“iya”

“mama yakin nina pergi?” tanya ku. Mama hanya tersenyum ke arah ku dan keluar. nina tau mama sedih, nina juga tau mama sebenarnya berat melepas ku. Jujur nina juga ngak rela ninggalin mama sendirian. Mama udah nemenin nina dan jaga nina selama ngak ada papa.

Malam yang sunyi ini seakan mewakilkan kegelisahan ku ketika hari esok tiba. 2 orang yang aku sayangi akan ku buat sedih ketika hari esok itu tiba. Benar-benar berat. Pilihan ku benar-benar sudah bulat, yakin. Aku tidak akan menyesal. Jika memang takdir yang membawaku bukan salah ku memilih hal yang benar atau pun salah.

~~~~~~~~~~

“pagi mids, udah bangun belum? Hmm pasti belum bangun yah. Ada kegiatan apa hari ini? semangat yah^^”

VN. Yap itulah yang ku dapat pagi ini. VN dari gre. Bisa di bilang setiap pagi ia selalu menyambut pagi hari ku dengan mengirim VN. Sudah berapa banyak VN yang ku simpan di hp ku. Aku tersenyum mendegar suara nya. rasa tak ingin meninggalkan nya kembali terasa. Sudah cukup aku berlama-lama, berbohong di hadapan nya aku butuh ketenangan, butuh hal yang bisa membuatku lebih tenang nantinya. Memilih segera menemui gre sebelum malam nanti itu tiba.

“hai mids J lama yah?” ucapnya yang baru saja datang

“hai gre J, ngak kok. Aku juga baru nyampe” jawab ku

“hmm sepertinya kita setiap hari bertemu yah mids, apa kamu tidak merasa aneh?” tanya nya heran

“eee..ee.. ngak tuh gre, mungkin itu Cuma perasaan mu aja kali gre” jawab ku gugup. Setiap hari? Ya benar gre, aku hanya ingin merasakan hangat nya hubungan ini sebelum aku memilih merasakan kesakitan diantara kedua orang yang ku sayangi.

“mungkin sih” ucapnya

“hmm gre?”

“iya J”

“aku mau ngomong sesuatu hal yang penting sama kamu”

“mau ngomong apa?” tanya nya menatap ku penasaran

“tapi sebelum nya aku minta maaf” jawab ku tertunduk

“maksud kamu apa mids? Aku ngak ngerti?”

“kamu tidak merasa aneh dengan sikap ku akhir-akhir ini?”

“sikap bagaimana? Ayo lah mids, jangan bertele-tele. To the point aja” ucapnya penasaran

“gre...” ucapku kemudian menggenggam tangan nya erat. “kamu boleh benci sama aku, kamu boleh ngak sayang lagi sama aku, tapi aku harap persahabatan kita tetap selama nya yah” lanjutku. Sudah pasti, gre sama sekali tak mengerti maksud ku apa. Ia terus mengkerutkan dahinya, heran dengan sikap ku yang aneh saat ini.

“a-a-a-a... aku... aku akan pergi!” ucapku lagi kemudian berlari meninggalkan sosoknya mematung menatap ku pergi. Ia terus memanggil nama ku, aku tak memperdulikan suara itu. Aku hanya terus berlari berlari dan berlari. Maafkan aku gre, aku yang tak punya nyali untuk mengatakan langsung kepadamu. Aku bukan orang yang pemberani. Aku tak pantas jagain kamu lagi gre. Aku harap ini bukan persahabatan yang terakhir kali nya terjalin. Rasaku tetap sayang dengan mu gre, tapi lain hal dengan mu jika nanti nya kamu mengerti arti semua perkataanku tadi.



~Bersambung



---------------------------------


Hai :D maaf menunggu lama ya hehe
Ya maklum lah ide saya kadang-kadang muncul kadang-kadang kagak -_-
FF ini akan segera berakhir, part 10 adalah part terakhir. Dan maaf kalau di part ini kurang bagus yah hehe

Thanks yang udah baca^^

Selasa, 09 Juni 2015

Fanfiction : Kotak Musik Gre (8) ( #GreMids JKT48 )

Kotak Musik Gre (8)

Dengan sekuat tenaga aku berlari setelah naik ojek sampe depan gerbang. Hari ini tak mungkin ke sekolah menggunakan mobil. Alhasil aku sampai di sekolah 3 menit sebelum bel berbunyi. Syukur lah, akhirnya aku tidak benar-benar terlambat pagi ini. dengan nafas terengah-engah aku masuk ke kelas. Kelas yang masih heboh tak membuat ku ikut larut dalam kehebohan kelas ini sebelum bel masuk jam pertama berbunyi. Aku duduk di kursi yang biasa ku duduki. Yap di samping nadse. Sembari ku menyelaraskan nafas ku yang masih sedikit terasa sesak akibat berlari dengan sekuat tenaga.

“mids, lu jadi ambil beasiswa itu?”

“belum tau nads” jawabku sambil mengeluarkan buku pelajaran jam pertama

“loh, bukannya waktu nya ngk lama lagi buat berangkat mids?”

“huftt -,-“

“apa lu menyembunyikan sesuatu? Ouh atau lu ngak di izinin sama ortu lu?” tanya nads begitu penasaran

“ah kepo banget sih lu -,- udah ah, tuh guru nya udah masuk”

Pelajaran pertama di mulai. Aku masih saja dengan sikap ku yang terus bingung ketika harus di himpit dengan dua persoalan sekaligus. Antara masa depan dan gre. Bodoh kah aku jika harus memilih gre? Mungkin pikiran orang iya. Tapi jika aku memilih masa depan, bisakah gre menerima jika kutinggalkan lama? Waktu itu dia bilang dia ngak mau jauh dari aku. Jadi apa? Aaargghh!!! Aku benar-benar mendapatkan dilema yang sangat berat.

“hamids!!?” teriak guru ku seakan membuat ku terkaget dan tersadar dari lamunan

“eh iya buk” jawab ku

“kamu dari tadi melamun terus, itu kerjakan soal yang saya berikan di papan tulis” ucap guru

“i..i..iya buk” jawab ku gugup sambil mencatat soal yang ada di papan tulis

Kriiing... bel istirahat berbunyi. Aku memilih ke kantin bersama nads. Aku duduk di meja dekat warung kantin langganan ku. Menompang dagu menatap tempat tisu ini. melamun tepatnya. Hari-hari ku selalu dihiasi dengan melamun dan melamun.

“woy!!!” teriak indah menggeprak meja dan mengagetkan ku

“apaan sih lu ndah, bikin kaget gw aje lu -,-“

“abisnya lu dari jauh gw lihat melamun fokus banget XD”

“-_-“

Seketika nads datang membawa dua mangkung mie ayam. “nih punya lu mids” ucapnya
“makasih yah” ucapku

“iya” jawab nya singkat. “dari tadi disini ndah?” lanjutnya

“baru aja nyampe nads, aah kalian berdua makan nih, gw ikutan laper. Gw pesen makanan dulu yah” ucap indah kemudian meninggalkan ku dan nads

Mie ayam makanan favorit ku kini seakan terasa hambar. Tak ada rasa yang enak sedikitpun kurasakan. Aku terus mengaduk-aduk mie ayam ini. masih dalam keadaan melamun.

“mids, lu ngak laper?” tanya nads

“hah?? Apa?” sadar ku

“mids, lu kenapa sih? Dari kemarin ngelamuuuuunn terus. Lu ada masalah? Cerita sama gw” ucapnya

“ng.. ngk papa kok nads”

Nadse seketika menatap ku heran. Ini malah semakin membuat ku gugup. Seperti diintrogasi hal yang penting banget gitu. tak lama aku palingkan wajah ku sambil melahap mie ayam yang sedari tadi tak ku makan-makan.

####################################

“mau nebeng bareng gw mids?” ucap nads

“ngk makasih nads, gw pulang naik angkot aja”

“yakin? Hmm ya udh gw duluan yah”

“iya J” jawab ku

Aku jalan sendirian menyusuri trotoar ini. jalan ku seperti orang bete sambil menendang apa yang ada di hadapan ku. Bodo ketika harus ada orang yang kena hasil tendangan ku. Pikiran ku terus memikirkan soal beasiswa di LA itu. Aku butuh seseorang yang bisa membuat ku keluar dari permasalahan ini. memberi kunci agar aku bisa memilih yang terbaik. Siapakah dia? Mungkin kah dia lagi?

Ku pencet bel apartement nya. tak ada jawaban, mungkin kak kinal dan kak ve sedang tidak ada di apartement. Aku harus kemana lagi? Kesiapa lagi? Aku bingung. Jalan ku tertunduk. Taman ini sepi seperti tak ada yang mau mengunjungi, hanya ada aku dan ayunan berwarna-warni ini. aku duduk di ayunan ini sambil tertunduk. Seketika hp ku berdering dan kemudian ku lihat. Gre memanggil ku. Haruskah ku angkat? Sebaiknya aku tak mengangkatnya. Hingga akhirnya aku membiarkan gre terus memangil tanpa ku jawab sedikit pun.

Aku terus tertunduk sambil mengayunkan ayunan ini pelan. Menatap sepatu ku. Tak ingin lihat siapa pun. Hingga akhirnya ayunan ku terhenti ketika melihat sepasang sepatu lain di hadapan kaki ku. Seseorang berdiri di hadapan ku. Siapa? Aku mulai melihat dari ujung sepatu itu hingga melihat wajahnya. Ia tersenyum manis kearah ku.
“kak kinal?” kaget ku

“kamu ngapain kesini?” tanya nya duduk di sebelas ayunan ku

“e..ee...eee....” jawab ku gugup

“kamu punya masalah lagi sama gre?” tanya nya

Seketika aku mengendus pelan “apakah ini sebuah masalah dari suatu hubungan kak?” tanya ku menatap kak kinal lirih

“maksud kamu apa?”

Aku memberikan surat beasiswa itu kepada kak kinal. Memberikan point dari permasalahan yang ku alami akhir-akhir ini. tak lama kak kinal menatap ku tajam. Aku hanya menatap nya lirih. “hamids~” panggil kak kinal dengan tatapan lirih menepuk pundak ku sambil tersenyum.

“ambil lah J” ucapnya lagi

“kak? :”(“ jawab ku

Waktu kian menampakkan wujudnya. Hingga akhirnya pertemuan ku dengan kak kinal berakhir, ia terus menepuk pundakku memberi isyarat ketenangan. Aku hanya tersenyum lirih. Aku pulang dengan wajah yang masih saja sama dengan kemarin. Tertunduk. Perasaan ini begitu berat jika harus bertemu gre. Aku ingin jauh untuk sementara waktu dengan nya. tak lama aku sampai di rumah.

“hamids~!!” panggil seseorang dengan suara yang ku kenal

“gre?” ucapku kaget

Seketika ia memelukku erat. “kamu kemana aja?” tanya nya sambil menangis

“gre~” ucapku tak tahu lagi harus bagaimana

“kamu kemana aja? :’(“

“a..aa.. aku tadi abis kerja kelompok” ucapku berbohong

“kamu ngak angkat telfon aku, aku kan khawatir mids :”(“

“maaf gre, aku udah buat kamu khawatir” ucapku melepaskan pelukkan nya

“janji aku ngak akan kek gini lagi J” lanjutku lagi sambil menghapus air matanya

“janji? :”)” tanya nya

“iya aku janji J” sambil mengaitkan jari kelingking ku dan dia.

“hari sudah mulai gelap gre, sebaiknya kamu pulang” lanjutku

“iya mids, aku pulang J”

“kamu hati-hati yah” ucapku melambaikan bye ke arah nya

“iya mids J” ucapnya sambil membalas lambaian ku dan melajukan mobil nya

Aku tersenyum menghantarkan ia pulang, menatap laju mobil nya hingga tak nampak lagi wujud mobil nya dari kejauhan. Tak lama senyuman ku ini kembali murung. Gre, jika harus kita berpisah disaat yang tidak tepat aku harap kamu bisa menerima semua nya gre. Pilihan ku sudah bulat. Menunggu waktu yang akhirnya akan menjadi sebuah moment yang tak akan pernah terbayangkan sebelumnya.

2 hari berselang. Hingga akhirnya aku bertemu dengan kepala sekolah. dengan perasaan berdebar aku bertemu kepala sekolah untuk membicarakan semua nya. pilihan ku. Pilihan yang nantinya bisa di terima banyak pihak dan juga di tentang banyak pihak. aku harus tegas. Pemimpin bukanlah seseorang yang plin plan. Tekad ku sudah bulat.

“doain gw ya nads” ucapku menggenggam tangan nya

“doa apaan sih? Wong lu Cuma mau ketemu kepsek doang -,- lu kata mau audisi?” ucapnya

“yah doain aja sih, biar gw bisa tenang jelasin semua nya ke kepsek”

“lu jadi terima beasiswa itu mids?” tanya nya menatapku tajam

“kalau gw mau ketemu kepsek berarti jadi dong”

“lu yakin mids?” ucapnya sambil menatap ku lirih

“yakin” ucapku menganggung meyakinkan

Seketika hamids memelukku erat “lu bakalan ninggalin gw dan temen2 yang lain mids ;”(“

“lu.. lu... kenapa sih nads?” tanya ku heran

“lu pergi, gw sendirian duduk nya. ngak ada temen ngobrol gw kalau lagi bosen belajar ;”(“

“yaelah nads, lebay amat lu -_-“

“ya abis nya, Cuma hamids yang bisa diajak ngobrol kalau lagi belajar L”

“-______- *ngak usah diomongin juga keles nads -,- yang baca FF ini jadi tau belang gw - -“* “

########################################

Aku masuk keruang kepsek dengan perasaan berdebar. “permisi pak J” ucapku

“iya silahkan masuk mids” ucap kepsek

“ayo ayo duduk” lanjut kepsek kepada ku

“iya pak makasih J” ucapku kemudian duduk

“jadi gimana? Apa tanggapan mu mids?”

Dengan tekad ku yang bulat. Optimis. Aku mengatakan tanggapan ku atas beasiswa itu. Aku menceritakan semua pada kepsek dengan santai nya tanpa ada kendala sedikitpun.

“kamu benar-benar yakin mids?”

“yakin pak, ini yang terbaik buat saya J”

“baiklah, kalau itu yang terbaik buat kamu. Saya bangga sama kamu mids, ngak salah saya pilih kamu menjadi pemimpin di team basket kita J” ucap kepsek itu sambil menepuk pundaku

“makasih pak J”

“kalau gitu kamu boleh kembali ke kelas”

“baik pak, saya permisi dulu” ucapku kemudian keluar dari ruangan kepsek

Aku keluar dengan perasaan lega. Tak lama aku di datangi oleh nads yang sedari tadi menunggu ku di depan ruang kepsek.

“mids~ :’(“ ucapnya lirih

“udah, jangan sedih. Yuk kita balik ke kelas J” ucapku merangkul nads dan berjalan menuju kelas.

#################################

Hari yang seakan terus menunggu ku hingga bertemu hari dimana aku benar-benar akan membuat mereka sedih. Sendirian. Jauh disaat aku tak lagi bersama gre. Kurang dari seminggu lagi beasiswa itu akan benar-benar terjadi, tapi apa? Perasaan ku masih saja terus-terusan merasa bersalah. Sama sekali aku belum cerita dengan gre tentang masalah ini, cukuplah dia tahu ketika hari itu terjadi. Maafkan aku gre.

“gw duluan yah mids” ucap nads

“iya, hati-hati yah” ucapku sembari membuka pintu mobil ku

Ketika hendak menyalakan mobil seketika hp ku berdering. Ku lihat nama gre di layar hp ku. Seketika aku angkat sebelum memilih jalan.

“iya gre?”

“hamids udah pulang?”

“nih mau pulang, ada apa?”     

“mau temenin aku ke cafe tante aku ngak?”

“hmm boleh deh, dari pada bingung di rumah ngapain”

“kamu sekarang dimana? Aku jemput yah?”

“aku di sekolah mids, iya. Aku tunggu”

##############################

Aku dan gre sampai di cafe. Kami berdua memilih duduk di dekat jendela. Menghadap danau yang berada tak jauh dari cafe ini. di cafe ini cukup nyaman. Bisa di bilang cafe yang sering di datangi anak-anak muda.

“gimana pelajaran hari ini mids?” tanya gre sambil melahap puding nya

“yaah lumayan lah, mending basket sih” ucapku sambil meminum coffelate

“kamu ini basket terus, belajar nya jangan di lupain dong”

“iya iya”

Aku menatap kerah jendela ini. suasana yang begitu nyaman dan indah. Aku bisa merasakan nyaman nya jika berada di danau itu. Ingin rasanya mengajak gre kesana, namun langit tak mengizinkan aku dan gre untuk mengunjungi danau itu. Namun ketika hendak menoleh kearah gre ku lihat gre tengah menatap ku tajam. Apa ini? apa ada yang salah dari ku saat ini sehingga gre menatap ku segitu nya. gre, please jangan menatap ku sampai segitu nya, aku begitu gugup ><

Tak lama gre mengeluarkan tangan kanan nya dari balik meja ini sembari menggambil tisu yang terletak di atas meja dan tiba-tiba saja menyentuh atas bibir ku. Seketika aku kaget dan salah tingkah.

“kamu kalau minum hati-hati yah, itu sampe belepotan gini” ucapnya membersihkan area bibir ku dengan tisu

Aku semakin salah tingkah di buatnya. Namun entah kenapa perasaan salting ini seketika hilang begitu saja ketika melihat senyum gre yang manis mengarah ke arah ku. Aku benar-benar bahagia jika melihat senyum manis nya ini. perhatian yang seakan ingin membunuh ku pelan-pelan. Aku mulai tak sanggup dengan ini semua. Aku kembali di rundung mengingat beasiswa itu, bukankah aku sudah menentukan jalan ku sendiri? Kenapa aku harus seperti ini? inilah yang ku dapat.

##################################

“gre, hari sudah sore. Ayo kita pulang” ajakku
“bentar mids, bentar lagi selesai nih” ucapnya yang masih fokus menulis tugas nya

“kamu ngerjain tugas apa sih?” tanya ku mengintip melihat catatan nya

“ini tugas biologi, aku bingung gini jadi nya :s”

“coba ku lihat” ucapku sambil mengambil buku biologinya

“ouh ini, ya ampun. Aku punya x gre catatan nya” lanjutku

“kenapa kamu ngak bilang dari tadi sih mids? -,-“

“yah abisnya aku ngak tau kamu ngerjain tugas apa - -“ “

“ya udh, aku pinjem catatan kamu” ucapnya

“bentar” ucapku sambil membuka tas

“nih” lanjut ku sambil memberi buku catatan ku dan kembali memasukkan buku yang menyelip catatan biologi ku ke dalam tas

“makasih mids J” ucapnya

“sama-sama J, yuk kita pulang” ajakku

Akhirnya aku dan gre pulang kerumah masing-masing. Sampai di rumah aku langsung tepar tanpa kembali memeriksa buku pelajaran hari ini. tepar beberapa menit aku di panggil mama untuk segara mandi dan makan malam. Namun sebelum turun dari kamar menuju ruang makan aku memilih merapikan buku-buku ku untuk pelajaran sekolah esok hari. Namun seketika aku terheran, bukankah biasanya aku selalu melihat amplop surat beasiswa ini di dalam tas? Kenapa sekarang aku malah tak melihat amplop itu. Kemana amplop itu? Seharian ini aku sama sekali tak mengeluarkan amplop itu. Ketinggalan di rumah pun tak mungkin, aku pun tak pernah mengeluarkan surat itu dari dalam tas kalau di rumah. Apa jangan-jangan tercecer? Tapi dimana? Aku mulai panik saat ini. amplop berisi surat beasiswa itu hilang entah kemana. Aku lupa. Aku mulai gelisah dan tak tahu lagi harus cari kemana.



~Bersambung.......




------------------------------------------------------

haii :) maaf sudah menunggu lama yah hehe :D
oiya kebetulan UAS sebentar lagi nih, menjelang uas aku posting dulu hehe
maaf kalau kurang bagus yah.
thanks yang udah baca^^
luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com